Erling Braut Haland, Monster Muda dari Skandinavia


Bukan Liverpool yang notabene sang juara bertahan. Bukan pula Ronaldo, yang merupakan pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah. Gelaran pembuka Liga Champions 2019/2020 nyatanya adalah panggung mewah bagi debutan muda bernama Erling Braut Haland.
Rabu (18/9/2019) dini hari WIB, menjadi malam paling diingat oleh Erling Braut Haland. Tiga gol dicetak Haland untuk membawa timnya, Red Bull Salzburg, meraih kemenangan telak 6-2 atas tamunya Genk di laga perdana grup E Liga Champions. Menjadi spesial, karena usia Haland baru 19 tahun! Seolah hat-trick dalam laga debutnya di Liga Champions tersebut sebagai penanda lahirnya bakat muda baru di sepak bola.
Dengan usia 19 tahun dan 58 hari, Haland hanya kalah dari Wayne Rooney (18 tahun 340 hari) dan Raul Gonzalez (18 tahun dan 113 hari) sebagai pencetak hat-trick termuda di Liga Champions.
Sebenarnya, ini bukan pertama kali Erling Braut Haland menjadi buah bibir pengamat sepak bola. Pada Juni 2019, pemain bertinggi 191 cm ini menorehkan catatan sensasional. Bersama timnas Norwegia, Haland berhasil mengemas sembilan gol kala bersua dengan Honduras di laga terakhir Grup C Piala Dunia U-20. Bahkan ia nyaris menggenapkan raihan golnya menjadi sepuluh andai sepakannya pada menit terkahir bersarang ke gawang Honduras.

Pembalasan Dendam Sang Ayah

Haland bukanlah nama yang cukup asing di belantika sepak bola. Jauh sebelumnya, sudah ada nama Alf-Inge Haland. Yang notabene merupakan ayah dari Erling Braut Haland.
Haland senior memang tak banyak mencetak gol karena perannya hanya seorang gelandang bertahan. Ia bahkan tak sekalipun meraih gelar juara sepanjang kariernya bersepakbola. Satu hal yang membuat Haland senior tetap menjadi perbincangan adalah perseteruan dengan mantan kapten Manchester United, Roy Keane.
April 2001, Alf-Inge Haland melawat ke Old Trafford sebagai pemain Manchester City. Seperti derbi pada umumnya, duel satu kota ini diprediksi akan panas.
Benar saja, sebuah tekel brutal dilayangkan Roy Keane tepat di lutut kiri Haland sebagai buntut balas dendam. Peristiwa ini membuat Keane diganjar denda dan larangan bermain. Namun bagi Haland, dampaknya jauh lebih besar. Dua tahun berselang, Alf-Inge Haland resmi gantung sepatu di usia yang baru menginjak 31.
Rasa nyeri di kaki kiri Haland senior mungkin sudah hilang, tapi Haland tentu tak bisa menahan rasa sakit hatinya harus pensiun dini dari sepak bola. Dan kemuncul sosok Erling Braut Haland bisa jadi obat manjur bagi sang ayah.

Monster Buas di Dalam Kotak Penalti

Lahir di Leeds, 21 July 2000, mulanya karier sepak bola Haland tidak terlalu spesial. Bersama klub pertamanya, Bryne, Haland tak sekalipun mencetak gol dari 16 pertandingan.
Sempat gagal mengikuti trial bersama Hoffenheim, Haland hijrah ke salah satu klub besar di Norwegia, Molde, pada January 2017. Musim pertamanya, ia mengemas 4 gol dari 20 pertandingan.
Kerja keras Haland perlahan mulai menujukkan hasilnya. Selain masa otot dan tinggi badannya yang berkembang pesat, insting mencetak golnya pun meningkat. 12 gol dari 25 pertandingan ia buat di musim kedua bersama Molde, termasuk 4 gol spektakuler ke gawang pemimpin klasemen Liga Norwegia, Brann.
Sebelum pertandingan tersebut, Brann hanya kebobolan 5 gol dari 14 laga, tapi Haland hanya perlu 20 menit untuk menggelontorkan 4 gol.
Keputusannya bergabung dengan Salzburg pada Januari 2019 membuat orang bertanya-tanya, mengingat ia juga mendapat tawaran dari beberapa klub besar seperti Juventus dan Bayern Leverkusen.
“Salzburg adalah klub yang paling cocok untukku dan merekalah yang paling menginginkanku. Aku juga berpikir untuk melihat seberapa penting peranku untuk tim. Ada lebih banyak peluang bermain di sini,” ujar Haland tentang keputusannya memilih klub asal Austria tersebut.
Langkahnya untuk bergabung dengan klub yang melambungkan nama Sadio Mane dan Naby Keita itu terbukti tepat. Erling Braut Haland sudah mencatatkan 17 gol dari 9 pertandingan yang ia lakoni untuk Salzburg di musim ini.

Mimpi Bermain di Premier League

Sama seperti bakat-bakat muda lainnya, Haland memiliki banyak mimpi sebagai seorang pemain sepak bola. Mimpi pertamanya adalah mengalahkan rekor sang ayah. “Pertama, aku ingin menjadi lebih baik dari ayah. Dia bermain sebanyak 181 kali di Premier League, jadi itu tujuan ku sebagai contohnya: Mencatatkan pertandingan lebih banyak dari ayah,” ujar Haland.
Manchester United terang-terangan tertarik untuk mendatangkan Haland ke Old Trafford. Terlebih faktor Ole Gunnar Solskjaer yang pernah menjadi pelatih Haland di Molde. Sayangnya, hubungan Manchester United dengan keluarga Haland kurang begitu harmonis jika ditilik dari sejarah perseturuan Roy Keane dengan Alf-Inge Haland. Hal itu membuat MU kesulitan mendatangkannya.
Mimpi Haland lainnya adalah bisa mengantarkan klub kota kelahirannya, Leeds United juara Liga Inggris. Sayang, Leeds tidak seperti Leeds yang dibela oleh Haland senior.
Leeds yang dikenal garang di era 90-an, sedang terpuruk dan masih terus berjuang untuk promosi dari Championship Division.
Mengingat mimpi Haland itu terbilang mustahil, tak salah jika klub-klub Liga Inggris lain memiliki peluang besar mendatangkan pemain berambut pirang tersebut.
Namun untuk sekarang, fokus bermain dan memberikan segala yang terbaik bagi Red Bull Salzburg adalah pilihan yang tepat untuk terus meningkatkan kemampuan Haland.
Erling Braut Haland diprediksi menjadi salah satu striker hebat dunia. Bagi sebagian pemain, mencetak hat-trick di Liga Champions adalah suatu prestasi besar, tapi bagi Erling Braut Haland, ini hanyalah sebuah permulaan.



7 comments for "Erling Braut Haland, Monster Muda dari Skandinavia"

  1. ini beneran monster sih. apalagi pas liga champion dua minggu lalu, yang dia nyekor banyak itu. dia hatrick pas babak pertama kan ya?
    gue belom siap, kalau monster ini harus pergi ke club rival, real madrid. apalagi setelah kemaren, barca di php-in sama Luca Jovic, yang berakhir berlabuh di madrid. fak.

    gue rasa, karirnya sebentar lagi akan mulai bersinar. semua top 5 liga besar di dunia, akan mulai mengontrak bakat sadisnya ini
    anjir lah, masih gregetan gue, pas liverpool kemaren enggak seri lawan red bull ini. sialan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya hattrick di pertandingan debutnya di Liga Champions. Katanya sih MU udah nawarin dia buat pindah. Secara pelatihnya kan Ole, pernah ngelatih si Haland di Molde. Tapi ya itu dia, bapaknya Haland punya hubungan kurang baik sama MU

      Wkwk kalah tapi doi tetep nyumbang satu gol sebagai pemain pengganti

      Delete
  2. Kalau liat caps dan golnya di Salzburg sih, oke banget. Cuma gue pengen dia buktiin pas main di klub gede dulu. Dan kalau liat daftar pencetak hattrick pada laga debut UCL, kalau ga salah ada empat orang dengan dia, nama-namanya kan bersinar semua, dan udah pernah menangin trofi UCL. Nah, kalau Haland masih di Salzburg, gue ragu dia beneran monster. Soalnya liat gol-golnya waktu hattrick juga gak begitu istimewa. Kayak Chicharito yang lebih ke positioning yang bagus, bukan murni skill individu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rising star banget sih dia di Salzburg. Monster di sini mungkin lebih ke perawakannya yang sangar tapi punya akselerasi yang juga cepet.

      Menurut gue, dia mending nyari pengalaman main dulu di Salzburg sampai umur 21 atau 22 baru pindah ke tim gede eropa

      Delete
    2. Gue khawatir dia bakal berakhir seperti Peter Crouch sih. Hahaha. Namun semoga dia beneran bagus dan bisa bersaing di liga top eropa.

      Delete
  3. Kalo bola saya gak terlalu ngikutin. Nontonnya euro atau PD aja trs sambil nanya2 ke si sulung hehe

    ReplyDelete