Ansu Fati, Pembuktian Teranyar Produk La Masia


Di usia 16 tahun 11 bulan 5 hari, sebagian pemuda mungkin sedang menghabiskan waktunya di depan layar komputer memainkan game online, atau mungkin sekadar duduk di kedai kopi ternama sambil bergosip ria. Tapi bagi Ansu Fati, tepat diumur tersebut, ia melangkah yakin di bawah gemerlapnya cahaya stadion Camp Nou.
Sabtu (25/8/2019), mengenakan jersey berwarna merah biru khas Blaugrana, Ansu Fati masuk sebagai pemain peganti pada menit ke-78 menggantikan Carles Perez di laga kontra Real Betis.
Tampil dalam 13 menit terakhir pertandingan, Fati nyaris menorehkan namanya di papan skor. Menggiring bola dari di sisi kanan lini serang Barca, Fati bergerak menusuk ke jantung pertahanan Betis dan melepaskan tendangan mendatar ke tiang jauh. Sayang bola sedikit meleset dari gawang.
Dalam laga yang berakhir 5-2 bagi kemenangan Barcelona itu, Ansu Fati menjadi pemain termuda kedua yang melakukan debutnya untuk Azulgrana. Ia hanya 18 hari lebih tua daripada Vincent Martinez, yang mencatatkan rekor pada tahun 1941.
Walau begitu, Ansu Fati resmi memperkenalkan namanya sebagai salah satu pemain masa depan Barcelona.

Pecahkan Rekor Demi Rekor




Ansu Fati sebenarnya adalah pemain tim Juvenil A (U-19 A) Barcelona. Ia diproyeksikan untuk mengisi skuat Barcelona B di musim ini. Namun, badai cedera yang menghantam skuad utama Barcelona, menjadi berkah tersendiri bagi Fati.
Nama-nama seperti Ousmane Dembele dan kapten Lionel Messi terpaksa harus menepi cukup lama. Tanpa perlu menjalani debutnya di Barcelona B, Fati langsung dipanggil Valverde ke tim senior.
Laga melawan Real Betis di pekan ke-2 Liga Spanyol, seakan hanya menjadi pembuka rentetan rekor yang dibuat Ansu Fati.
Seminggu berselang, bertandang ke Osasuna di pekan ke-3, Barcelona masih belum bisa menurunkan Messi, Dembele, dan Luis Suarez di lini depan. Hasilnya, Barcelona bermain buruk dan tertinggal 1-0 di babak pertama.
Di awal babak kedua, Valverde memasukkan Ansu Fati untuk menggantikan Semedo. Cuma butuh 5 menit bagi pemain kelahiran Guinea-Bisau itu mebobol gawang Osasuna sekaligus menjadikannya pencetak gol termuda bagi Barcelona sepanjang sejarah.
Magis Ansu Fati belum berakhir. Menjamu Valencia di pekan ke-4 Liga Spanyol, Fati tak perlu lagi harus menunggu di bangku cadangan. Ia dipercaya mengisi lini serang Barcelona bersama Carlez Perez dan Antoine Griezmann.
Satu gol dan satu assist ia ukir di laga yang dimenangkan Barca 5-2. Fati sekaligus mengukuhkan diri sebagai pemain termuda yang bisa mencetak gol dan assist dalam satu pertandingan Liga Spanyol.

Menolak Tawaran Real Madrid




Sama seperti pesepakbola Afrika kebanyakan, Ansu Fati tumbuh di lingkungan kumuh negara Guinea-Bisau. Untuk bisa menyalurkan hobi bermain bola, sosok kelahiran 31 Oktober 2002 itu terkadang hanya menendang-nendang gulungan kaus kaki.
Ansu Fati hidup bersama ibunya, Maria. Sang Ayah, Bori, terpaksa meninggalkan Guinea-bisau untuk bisa menghidupi keluarga dengan bekerja di Spanyol Selatan. Bori bekerja serabutan sebelum menjadi supir pribadi Juan Manuel Sanchez Gordilo, walikota Marinelda di Sevilla.
Berkat Gordilo, Bori akhirnya bisa memboyong keluarganya termasuk Fati yang masih berusia enam tahun ke Spanyol. Sang Ayah sempat dibuat takjub oleh skill Ansu Fati mengolah si kulit bundar. Fati akhirnya dikirim ke Peloteros School, yang memiliki tim sepak bola di Herrera, sebuah kota kecil yang berjarak satu jam dari pusat kota Sevilla.
Tak butuh waktu lama bagi Fati mencuri perhatian banyak pemandu bakat, termasuk Pablo Blanco, kepala akademi Sevilla. Tahun 2010, Fati pun resmi bergabung bersama akademi Sevilla.
Di usianya yang belum genap 10 tahun, banyak yang memprediski Ansu Fati akan menjadi seorang pemain hebat di masa depan. Bahkan hanya beberapa pekan bermain di akademi Sevilla, Fati sudah kembali mendapat tawaran dari Real Madrid dan Barcelona.
Orang tua Fati kemudian mengunjungi markas akademi Madrid dan Barcelona untuk memilih tempat yang terbaik bagi sang anak. Seperti yang sama-sama kita ketahui sekarang, orang tua Fati akhirnya lebih memilih Barcelona.
“Real Madrid menawarkan kami lebih banyak uang, tetapi ketika aku pergi ke Valdebebas (markas latihan Madrid), aku melihat bahwa mereka tidak memiliki asrama untuk anak-anak, meskipun mereka menawarkan kami sebuah rumah. Pada akhirnya, kami memilih Barcelona karena mereka memiliki asrama,” ungkap Bori.
Setelah menolak pinangan Madrid, bukan berarti Fati otomatis langsung bergabung dengan Barcelona. Direktur Sevilla, Monchi, masih berharap Fati mau bertahan dengan menawarkan uang lebih banyak dari Barcelona. Namun orang tua Fati tetap bergeming.
Keputusan keluarga Fati membuat Sevilla geram dan menolak memainkan Fati selama tahun 2011.
Ansu Fati akhirnya hijrah ke Barcelona di tahun 2012 sekaligus memulai petualangan baru sebagai produk La Masia.

Pembuktian La Masia




Fati masuk ke tim Alvein A atau U-12 Barcelona. Meski masih berusia 10 tahun, tapi Fati terlihat sangat menonjol di antara rekan-rekannya yang lebih tua. Bersama Takefusa Kubo, Fati menciptakan duet mematikan di tim junior Barcelona. 130 gol mereka cetak selama bermain di Alvein A.
Sayang pada tahun 2014, Barcelona dihukum embargo tranfer oleh FIFA, yang membuat Kubo dan sejumlah pemain impor lainnya angkat kaki dari La Masia.
Fati sendiri tetap bertahan di Barcelona. Sampai hukuman embargo itu berakhir pada tahun 2015, Fati baru bisa kembali terdaftar sebagai pemain Barca.
Di tim Juvenil B (U-18), Fati lagi-lagi membuktikan kualitasnya sebagai pemain paling menonjol di antara teman maupun lawan. Pelatih Jose Mari Bakero kemudian menggeser posisi Fati dari striker menjadi seorang winger dengan tujuan mengasah skill dribble-nya. Di posisi barunya itu, Fati terus berkembang dan bahkan mampu menjadi topskor Liga U-18.
Tak mau kehilangan aset berharganya, Barcelona langsung memagari Fati dengan perpanjangan kontrak hingga 2022 dengan klausul pelepasan 100 juta euro.
Kehadiran Ansu Fati di skuat utama seakan menjadi jawaban atas banyaknya kritik terhadap Barcelona yang mulai jarang mengorbitkan produk akademi sendiri.
Blaugrana lebih mengutamakan membeli sejumlah pemain dengan harga selangit dalam beberapa tahun terakhir. Coutinho, Dembele, hingga Antoine Griezmann adalah contohnya.
Padahal Barcelona dikenal sebagai penghasil pemain-pemain akdemi terbaik. Bahkan di era 2010-an, skuat utama Barcelona hampir semuanya diisi oleh jebolan La Masia.
Victor Valdes, Puyol, Pique, Xavi, Busquets, Iniesta, Pedro, dan Messi adalah tulang punggung Barca saat meraih treble winners di bawah asuhan Pep Guardiola yang juga adalah didikan La Masia.
Paska kepergian Guardiola, terjadi penurunan jumlah pemain La Masia di Barcelona. Pada tahun 2018, Valverde memainkan starting eleven tanpa satu pun pemain didikian La Masia. Hal yang baru terjadi selama 16 tahun terakhir.
Tentu kemunculan Ansu Fati seolah menjadi oase segar bagi para penggemar Barcelona yang rindu terhadap pemain asli La Masia.
Sama halnya seperti pelukan yang diberikan Messi kepada Fati setelah laga melawan Betis. Seakan menggambarkan jika sang megabintang telah menemukan penerusnya.

4 comments for "Ansu Fati, Pembuktian Teranyar Produk La Masia"

  1. Tadinya gue sempet bilang Ansu Fati itu pemain yang overrated. Abis baca ini, kayaknya gue mau narik kata-kata gue waktu itu. Hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue takutnya dia malah jadi kayak Bojan Krkic sih. Bagus di usia muda, tapi karena enggak konsisten dan sering cedera, hasilnya di jadi salah satu wonderkid yang flop

      Delete
    2. Nah iya, gue sempet tuh ngidolain Bojan pas baru-baru muncul. Eh taunya ngilang secepat itu. Hahha

      Delete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete