Huru-hara Ibu Kota Seraya Bersandar dalam Harap Abang Gojek Tercinta



Entah pernah terpikirkan atau tidak, yang jelas andai saya menjadi Tuhan, tentu Jakarta merupakan tempat strategis bagi iblis-iblis terlatih menyebarkan segala dosa dalam bentuk sumpah serapah.

Sunda Kelapa, Batavia, Jakarta, atau apalah anda ingin menyebutnya, bukan tempat yang layak bagi manusia yang ingin hidup damai. kedamaian di jalanan Jakarta tak ubahnya seonggok harapan kosong tentang kisah menemukan kolam renang marcoplo di tengah gurun Sahara, Afrika

Desingan klakson kendaraan saling beradu menunjukkan bagaimana manusia-manusia brengsek di Ibu kota berusaha menjadi yang terdepan dalam urusan mencari nafkah.

Padahal waktu yang mereka keluarkan untuk menekan tombol klakson di motor, mobil, bus, lebih bermanfaat jika dipakai menggeleng-gelengkan kepala ke kiri dan ke kanan. 

Tak ada untungnya memang. Tapi setidaknya hal itu tak akan mengganggu pengendara lain yang sedang menikmati jalanan hasil pajak masyarakat yang pastinya sudah disunat sana-sini oleh pejabat keparat penyebab kemacetan.

Menyebalkannya lagi, nama-nama jalan yang punya reputasi macet di Jakarta dinamai dengan nama-nama pahlawan nasional. Jendral Sudirman, Gatot Subroto, M.T Haryono, adalah segilintir sosok yang harusnya mendapatkan persembahan terbaik. Setidaknya, saya dan jutaan orang yang hilir mudik di sendi-sendi jalanan Ibu Kota tak memaki dengan menyebut Gatot Subroto bangsat macet banget!

Sepintas saya punya rencana maju sebagai anggota DPR, (persetan dengan politik baik-baik, maka gunakan isu agama demi memikat banyak suara), dan mengusulkan kepada Presiden mengganti nama jalan tersebut dengan Gayus Tambunan, Setya Novanto, atau Soeharto, koruptor dengan title pahlawan.

GAYUS TAMBUNAN ANJING! Saya pastinya tak akan terkena pasal pencemaran nama baik karena makian yang dituju adalah untuk nama jalanan jakarta yang tolol.

Setiap pagi, selangkah meningalkan rumah, saya bak sedang terjun langsung di medan pertempuran Perang Dunia II bersama Nazi pimpinan Hitler. Bedanya mungkin abang gojek yang saya sewa tak memakai pesawat Curtiss P-40 Warhawk milik Amerika yang digunakan memepertahankan pangkalan Pearl Harbor saat Jepang menyerang.

Namun, andai Hermann Wilhelm Goring hidup di Jakarta seperti saya, ia langsung akan mengumpat JANCUK, dan membikin strategi genosida bagi setiap pengendara motor dan mobil yang masih berani melajukan kendaraannya di kala masih dalam fase kredit.

Tapi tunggu dulu, motor-motor kredit laknat yang memenuhi Ibu Kota tak salamanya bikin rusuh jalanan. Ada mereka, puluhan, tidak, ratusan bahkan, berjaket hijau, berkelana ke setiap gang-gang sempit perkampungan, berkumpul di stasiun, terminal, atau depan-depan kantor koorporat, mereka adalah abang ojek online, yang siap, yang rela, yang sudi memandu para pencari nafkah menuju ruang hampa persemaian keringat menjadi rupiah.



Saya adalah pelanggannya. Hilir mudik memakai aplikasi yang terus menjejali alam bawah sadar kita tentang kebanggaan menggunakan produk anak bangsa. Tai kucing lah dengan produk-produk Indonesia, asal bisa meringankan kesusahan rakyat jelata di bawah cengkraman raja-raja kapitalis, tentu aplikasi itu, oke aplikasik gojek ini, layak untuk diapresiasi.

Sudarsono. Begitu nama yang tertera di aplikasi gojek saya. Dari namanya saja saya sudah bisa menebak jika beliau bukan asli Jakarta. Jawa Timur mungkin. Karena mengingatkan saya kepada sosok Budi Sudarsono, bekas pemain Persik Kediri.

Kurang dari lima menit setelah saya mengucap sesuai di aplikasi ya pak, Pak Sudarsono sudah hadir depan pagar rumah. "Ini helmnya mas," begitu sapanya ketika melihat saya.

Entah emang Pak Sudarsono baik dari sananya, atau jangan-jangan ia hanya takut dengan tampang saya mirip keyboard warior yang tak segan membuat thread berisi rentetan twit cacian kepada abang-abang gojek yang sering menawarkan gopay.

Liukan demi liukan Saya dan Pak Sudarsono lalui. Pada liukan ke-9 atau 12, saya lupa mengingatnya. Pak Sudarsono melakukan manuver ekstream. 

Andai Marc Marquez sedang berada di samping saya, ia mungkin bakal segera pensiun sebagai pembalap MotoGP ketika melihat Pak Sudarsono dengan cekatan menyalip bus transjakarta serta mobil Chevrolet silver hanya dengan sekali tarikan gas.

Saya tahu, kata bajingan bakal terlontar dari pengemudi Chevrolet tadi melihat tingkah tak senonoh Pak Sudarsono yang meliuk lewat sisi kiri bahu jalan lalu menyilang tepat di hidung sang mobil buatan Rusia.

Andai saya diajari kuliah desain grafis dan bergulat di industri tekstil, tentu satu hal yang saya langsung lakukan adalah memberikan Pak Sudarsono sebuah hadiah kaos dengan desain di belakangnya FUCK THE RULES! 

Pukul 10.10 Saya sudah sampai di kantor. Tak lupa memberikan pecahan uang 25 ribuan. Tanpa perlu sebuah feeling yang kuat, saya sudah tahu Pak Sudarsono tak akan memberikan saya 2 ribu sebagai bentuk kembalian karena harga yang tertera di apliaksi 23 ribu.

Toh, 2 ribu hitung-hitung bentuk cinta saya kepada seluruh abang gojek di Jakarta yang mampu memberikan nafas baru bagi pengepul cuan yang pesimis dengan bobroknya sistem transportasi buatan penguasa.

****

Hai, tulisan di atas cuma cerita fiksi  dan opini gue yang kepikiran ketika kena macet setiap pulang kerja di Jakarta. 

11 kata kasar di atas adalah 11 kata ungkapan yang biasanya gue ucapkan ketika berhadapan dengan macet di Jakarta haha.

8 comments for "Huru-hara Ibu Kota Seraya Bersandar dalam Harap Abang Gojek Tercinta"

  1. gue kayaknya enggak perlu berhadapan dengan macet untuk mengeluarkan kata-kata itu.
    ternyata gue enggak sebaik yang gue fikirkan ya.
    ehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ente di Mesir gak nemu macet separah Jakarta ya?

      Delete
  2. Fokusku pada nama Budi Sudarsono, ingatanku tajam ke Timnas era beliau. Huehehe.
    Kadang suka mau teriak aja kalau di kemacetan masih ada yang klakson-klakson. Di lampu merah pun masih ada oknum begitu. Padahal lampunya juga nggak langsung jadi hijau kalau disapa begitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apalagi gol i Piala Asia 2007, memorable banget

      Ku sih tidak tahu apa motif orang neken tombol klakson pas lampu ijo bru nyala

      Delete
  3. Babang gojek tersayang. Apalah hidupku tanpamu. Dipanggil tengah malem dimintain tolong beliin makanan masih mau nyamper. Dipanggil pagi-pagi buta, juga masih ada yang nongol.

    ReplyDelete
  4. thats why aku gak mau bgt tinggal di jakarta. serang aja macetnya udah bikin sakit kepala. tapi dimanapun qta berada abang gojek sangat berjasa apalagi di tempat yang akrab sama macet :')

    ReplyDelete
  5. SAYA SUKA UMPATAN. SAYA SUKA UMPATAAAAN. AYO TERUSKAN. TAMBAHIN LAGI SEPERTI BAJINGUK, KONTORU, TELO GODHOK, WEDUS GEMBEL, TELEK JARAN, DAN LAIN-LAIN. AYO AYO AYOOOOOOO.

    JAKARTA SEKERAS ITU YA BTW :(

    ReplyDelete
  6. Gila, gue relate banget sama tulisan ini haha. Jakarta oh Jakarta...

    Kemacetan Jakarta seolah tercipta untuk nge-tes kesabaran orang paling sabar sekalipun, hingga keluar kata-kata umpatan, bahkan di dalam hati (kalo malu memaki terang-terangan). Tapi uniknya kemacetan Jakarta, di jalan-jalan tertentu, selalu ada pihak-pihak yang bisa manfaatin semrawutnya itu, mulai dari pengamen (berkostum maupun tak berkostum), pengemis dalam segala rupa, penjual barang-barang serba ada, dan masih banyak lagi lah.

    Jadi, di satu sisi saat yang kena macet melampiaskan emosi, di sisi lain ada yang tersenyum lebar.

    Untuk sang abang Gojek, salut deh, dengan segala manuvernya haha :D

    ReplyDelete